Rabu, 06 Januari 2016

Penjelasan Tentang Menjaga Lima Perkara Sebelum Lima Perkara

ohmlukas.blogspot.com - Kehidupan merupakan kesempatan, dan kehidupan berisi kesempatan-kesempatan yg silih berganti yg tak terhingga. Allah menjalankan hamba-hambaNya dlm kesempatan-kesempatan tersebut, kesempatan-kesempatan yg bervariasi, selalu hadir dlm segala bidang. Ada kesempatan yg akhirnya merubah arah kehidupan, ada kesempatan yg mendatangkan perubahan kehidupan menjadi lebih baik bagi orang yg menggunakan kesempatan tersebut dan mengembangkannya.
Sebagian kesempatan tak terulang lagi. Sebagian salaf berkata :
إذا فُتح لأحدكم بابُ فليُسْرعْ إليه، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي مَتَى يُغلَقُ عَنْهُ
Jika dibukakan bagi seorang dari kalian pintu kebaikan maka bersegeralah menuju kepadanya, karena sesungguhnya ia tak tahu kapan ditutup pintu tersebut
Kesempatan terkadang dlm bentuk ketaatan, / amalan kebajikan untk membangun negeri / pengembangan masyarakat, dan terkadang kesempatan berupa kedudukan dan jabatan untk ia gunakan demi membantu kepada agama dan umat, dan terkadang kesempatan dlm bentuk perdagangan.
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ مَعَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ
Sebaik-baik harta yg baik adlh bersama hamba yg sholeh (HR. Ibnu Hibban).
Kesempatan dlm kehidupan seorang mukmin terbuka terus sepanjang hidup, tegak terus hingga saat-saat terakhir dari umurnya. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untk menanamnya maka tanamlah. (HR. Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrod).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah teladan yg diikuti, dgn kesiagaannya selalu, pandangan beliau yg tajam dan terang dlm memanfaatkan kesempatan-kesempatan. Beliau selalu memotivasi dlm ketaatan, memberi dorongan kepada hamba-hamba Allah, memberi pengarahan dan tarbiyah. Suatu hari beliau membonceng Ibnu Abbas -semoga Allah meridoinya- di belakang beliau, maka beliau berkata ;
Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepada engkau beberapa perkataan, jagalah Allah maka niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah maka niscaya engkau akan mendapati Allah di hadapanmu, jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. (HR. at-Tirimidzi).
Tatkala beliau melihat tangan Umar bin Abi Salamah berkeliaran di tampan makanan, maka beliau berkata :
يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
Wahai pemuda, ucaplah bismillah, makanlah dgn tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yg dekat denganmu (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Sebuah keniscayaan bahwa segala sesuatu akan ada akhirnya. Buku yg kita baca ni suatu saat akan rusak dan hilang, mata yg kita gunakan untk membaca suatu saat jg akan rabun, tangan yg kita gunakan untk memegang buku ni suatu saat akan lemah dan kulitnyapun akan mengeriput.
Singkatnya segala yg yang ada di dunia ni akan musnah dan ada akhirnya. Tidak ada yg abadi di dunia ini.
Lantas kalau demikian bagaimana kita memanfaatkan seluruh nikmat yg ada ni sebelum hilang?. Mengoptimalkan dan memanfaatkannya untk sesuatu yg diridhai oleh-Nya itulah jawabannya.
Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bahwasannya beliau berkata kepada seorang laki-laki untk menasihatinya :
إِغْتَنِمْ خَمْساًَ قًبْلَ خَمْسٍِ : حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَشَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ
Manfaatkanlah lima (keadaan) sebelum (datangnya) lima (keadaan yg lain) : Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu [HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi].(HR. Al Hakim dlm Al Mustadroknya 4: 341. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ni shahih sesuai syarat Bukhari Muslim tapi keduanya tak mengeluarkannya. Dikatakan oleh Adz Dzahabiy dlm At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim.)
Dan disebutkan dlm hadits yg lain:
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌأَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِالْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ . [رواه البخاري]
Dari Ibnu Umar Jadilah engkau di dunia ni seakan-akan sebagai orang asing / pengembara. Lalu Ibnu Umar رضي الله عنهma berkata : "Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum kamu sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati".( Hadits riwayat Bukhori kitab roqooq: 6416) Ghonim bin Qois berkata, كنا نتواعظُ في أوَّل الإسلام : ابنَ آدم ، اعمل في فراغك قبل شُغلك ، وفي شبابك لكبرك ، وفي صحتك لمرضك ، وفي دنياك لآخرتك . وفي حياتك لموتك ‎ Di awal-awal Islam, kami jg saling menasehati: wahai manusia, beramallah di waktu senggangmu sebelum datang waktu sibukmu, beramallah di waktu mudamu untk masa tuamu, beramallah di kala sehatmu sebelum datang sakitmu, beramallah di dunia untk akhiratmu, dan beramallah ketika hidup sebelum datang matimu. (Disebutkan dalamHilyatul Auliya’. Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 387-388).‎
Hadits ni merupakan nasihat yg lengkap dan sangat berharga dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam adlh utusan Allah yg memiliki sifat kasih dan sayang kepada umatnya, sehingga beliau menerangkan perkara-perkara yg sangat dibutuhkan oleh mereka.
Orang yg akan melakukan perjalanan jauh pasti akan menyiapkan perbekalan yg cukup. Lihatlah misalnya orang yg hendak menunaikan ibadah haji. Terkadang ia mengumpulkan harta dan perbekalan sekian tahun lamanya, padahal itu berlangsung sebentar, hanya beberapa hari saja. Maka mengapa untk suatu perjalanan yg tak pernah ada akhirnya -yakni perjalanan akhirat- kita tak berbekal diri dgn ketaatan?! Padahal kita yakin bahwa kehidupan dunia hanyalah bagaikan tempat penyeberangan untk sampai kepada kehidupan yg kekal nan abadi yaitu kehidupan akhirat, di mana manusia terbagi menjadi: ashhabul jannah (penghuni surga) dan ashhabul jahim (penghuni neraka). Itulah hakikat perjalanan manusia di dunia ini. Maka sudah semestinya kita mengisi waktu dan sisa umur yg ada dgn berbekal amal kebaikan untk menghadapi kehidupan yg panjang. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yg beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah tiap diri memerhatikan apa yg telah diperbuatnya untk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan. (Al-Hasyr: 18) Ibnu Katsir berkata: Hisablah diri kalian sebelum dihisab, perhatikanlah apa yg sudah kalian simpan dari amal shalih untk hari kebangkitan serta (yang akan) dipaparkan kepada Rabb kalian. (Taisir Al-‘Aliyil Qadir, 4/339)
Allah menerangkan sifat beliau dlm Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رّحِيمٌ
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, penderitaanmu terasa berat olehnya, dia sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin [QS. At-Taubah : 128].
Sesungguhnya kaum muslimin termasuk kita sangat membutuhkan nasihat ini. Kita saksikan hari-hari berlalu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, tetapi simpanan kebaikan kita tak bertambah banyak. Kita masih banyak menyia-nyiakan hidup kita untk untuk bermain dan melakukan perbuatan sia-sia. Orang-orang banyak melewati waktu yg sangat berharga hanya untk menikmati musik, lagu, TV, berbagai permainan, serta kesenangan lainnya, sekedar mengikuti nafsu syahwat.
Dengarlah dan perhatikanlah firman Allah berikut ni :
وَأَنفِقُواْ مِن مّا رَزَقْنَاكُمْ مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولُ رَبّ لَوْلآ أَخّرْتَنِيَ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصّدّقَ وَأَكُن مّنَ الصّالِحِينَ * وَلَن يُؤَخّرَ اللّهُ نَفْساً إِذَا جَآءَ أَجَلُهَآ وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yg telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, Ya Rabbku, mengapa Engkau tak menangguhkan (kematian)-ku sebentar saja, sehingga aku dpt bersedekah dan aku menjadi orang-orang shalih. Dan Allah sekali-kali tak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan[QS. Al-Munafiquun : 10-11].
1. Memanfaatkan hidup sebelum datang kematian
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberi nasihat kepada seseorang supaya memanfaatkan hari-hari selama hidupnya sebelum matinya. Hidup merupakan nikmat yg besar. Hari-hari dlm kehidupan merupakan kenikmatan. Karenanya tiap kali bangun dari tidurnya, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengucapkan :
الحَمْـدُ لِلّهِ الّذِيْ أََحْـيَانَا بَعْـدَ مَا أََمَاتَـنَا وَإِلَيْهِ النُّـشُوْر
Segala puji bagi Allah yg menghidupkan kami setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nya tempat kembali [HR. Bukhari].
Hal itu disebabkan oleh karena pd hari itu seseorang berkesempatan bertaubat dan memperbanyak perbuatan baiknya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
خيركم من طال عمره وحسن عمله
Sebaik-baik kalian adlh orang yg panjang usianya dan bagus amalnya[HR. At-Tirmidzi].
Orang yg berusia panjang disertai dgn amal shalih, dia akan mencapai derajat yg tinggi serta kenikmatan yg abadi. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membedakan dua orang shahabat (yang beliau persaudarakan). Shahabat pertama meninggal dunia, tujuh hari kemudian disusul oleh shahabat yg kedua. Diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin Khalid As-Sulami :
أخى رسول الله صلى الله عليه وسلم بين رجلين فقتل أحدهما ومات الأخر بعده بجمعة أو نحوها فصلينا عليه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما قلتم فقلنا دعونا له و قلنا اللهم اغفرله وألحقه بصاحبه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فأين صلاته بعد صلاته وصومه بعد صومه إن بينهما كما بين السماء والأرض
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan dua orang laki-laki. Lalu salah seorang di antara keduanya meninggal, kemudian yg satunya meninggal jg sepekan setelah itu. Kami menshalatinya, lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, Apa yg kalian ucapkan?. Mereka menjawab : Kami berdoa untuknya, kami katakan, Ya Allah, ampunilah dia dan pertemukanlah dia dgn saudaranya. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :Dimana (pahala) shalat orang ni setelah shalatnya (orang yg meninggal lebih dahulu)? Dimana (pahala) puasa orang ni setelah puasanya (orang ini)? Jarak antara kedua shahabat ni seperti jarak langit dan bumi [HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i].
Perhatikanlah wahai saudaraku - semoga Allah merahmati kita - bagaimana seorang yg mati di atas ranjangnya bisa melebihi saudaranya yg mati syahid, derajatnya melampaui derajat saudaranya hanya karena waktu satu pekan yg Allah karuniakan kepadanya (lalu waktu itu dimanfaatkan untk beramal shalih). Bagaimana kalau dia hidup satu tahun lagi / lebih ?
Marilah kita manfaatkan hidup kita, wahai saudara-saudaraku!
Hendaknya kita sadar, bahwa kematian itu datangnya tiba-tiba.
Kematian itu tak mengenal usia tertentu, dia tak mengenal waktu-waktu tertentu dan jg penyakit-penyakit tertentu. Hal ni bertujuan supaya manusia mewaspadainya, menyiapkan diri untk menemui kematian.
Wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian menjadikan agama sebagai mainan!! Janganlah kalian tertipu oleh kehidupan dunia!! Janganlah tipuan-tipuan itu membuatmu tertipu dari Allah.
إِنّ اللّهَ عِندَهُ عِلْمُ السّاعَةِ وَيُنَزّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مّاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنّ اللّهَ عَلَيمٌ خَبِيرٌ
Sesungguhnya Allah, hanya pd sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yg ada di dlm rahim. Dan tiada seorangpun yg dpt mengetahui apa yg akan dikerjakan besok. Dan tiada seorangpun yg dpt mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya[QS. Luqman : 34].
Allah sudah memberitahukan kepada kita bahwa orang-orang yg sudah mati meminta supaya mereka dikembalikan di dunia ketika mereka tahu betapa berharganya hidup. Allah berfirman :
حَتّىَ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبّ ارْجِعُونِ * لَعَلّيَ أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلاّ إِنّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىَ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
(Demikianlah keadaan orang-orang itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yg shalih terhadap yg telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adlh perkataan yg diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan [QS. Al-Mukminuun : 99-100].
Qatadah rahimahullah berkata, Demi Allah, dia tak meminta dikembalikan agar bisa berkumpul dgn keluarganya, tak pula supaya bisa mengumpulkan harta / memenuhi nafsu syahwatnya. Akan tetapi dia meminta hidup kembali supaya bisa berbuat taat [Tafsir Ibnu Katsir 3/225].
Allah berfirman :
يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَـَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ. وَأَنفِقُواْ مِن مّا رَزَقْنَاكُمْ مّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولُ رَبّ لَوْلآ أَخّرْتَنِيَ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصّدّقَ وَأَكُن مّنَ الصّالِحِينَ
Hai orang-orang yg beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yg berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yg rugi. Dan belanjakanlah sebagaian dari apa yg telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kami; lalu ia berkata : Ya Rabbku, mengapa Engkau tak menangguhkan (kematian)ku sebentar saja, yg menyebabkan aku dpt bersedekah dan aku termasuk orang-orang yg shalih [QS. Al-Munafiquun : 9-10].
Semua orang yg melanggar syari’at akan menyesal ketika sakaratul-maut. Mereka meminta ditangguhkan walaupun hanya sesaat untk mendapatkan kembali apa yg mereka tinggalkan. Satu hal yg mustahil !! Semua yg terjadi telah berlalu, tak akan kembali !
Allah berfirman :
وَأَنذِرِ النّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الّذِينَ ظَلَمُوَاْ رَبّنَآ أَخّرْنَآ إِلَىَ أَجَلٍ قَرِيبٍ نّجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتّبِعِ الرّسُلَ أَوَلَمْ تَكُونُوَاْ أَقْسَمْتُمْ مّن قَبْلُ مَا لَكُمْ مّن زَوَالٍ. وَسَكَنتُمْ فِي مَسَـَكِنِ الّذِينَ ظَلَمُوَاْ أَنفُسَهُمْ وَتَبَيّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الأمْثَالَ
Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pd waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yg dhalim : Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikan kami ke dunia) walaupun dlm waktu yg singkat, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul. (Kepada mereka dikatakan) : Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tak akan binasa, dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yg menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan [QS. Ibrahim : 44-45].
2. Memanfaatkan kesehatan‎ 3. Memanfaatkan waktu luang
Kesehatan adlh mahkotanya orang sehat. Kesehatan tak terlihat nilainya kecuali oleh orang yg sakit. Demikian jg waktu luang adlh nilai yg sangat tinggi yg tak disadari kecuali oleh orang yg sibuk.
Menyia-nyiakan Kesempatan Banyak orang yg melewati hari-harinya dgn hura-hura, berfoya-foya, dan perbuatan sia-sia. Bahkan tak jarang dari mereka yg tenggelam dlm dosa. Tidaklah mereka melakukan ketaatan sebagai bekal di hari kemudian dan tak pula mengisi dgn kegiatan positif yg bermanfaat bagi kehidupannya di dunia. Seolah keadaannya mengatakan bahwa hidup hanyalah di dunia ni saja. Tiada yg terbayang di benaknya kecuali terpenuhi syahwat dan nafsunya. Orang yg seperti ni tak jauh dari binatang bahkan lebih jelek keadaannya. Nabi bersabda:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (Ada) dua nikmat yg kebanyakan orang tertipu padanya, (yaitu nikmat) sehat dan senggang. (HR. Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, lihat Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 2304)
Umur Bukan Pemberian Cuma-Cuma Waktu adlh sesuatu yg terpenting untk diperhatikan. Jika ia berlalu tak akan mungkin kembali. Setiap hari dari waktu kita berlalu, berarti ajal semakin dekat. Umur merupakan nikmat yg seseorang akan ditanya tentangnya. Nabi bersabda:
لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ ‎ Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dlm apa ia gunakan, tentang masa mudanya dlm apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dlm apa ia belanjakan, dan tentang apa yg ia amalkan dari yg ia ketahui (ilmu). (HR. At-Tirmidzi dari jalan Ibnu Mas’ud)
Diriwayatkan oleh Al-’Allamah Syam yg bernama Jamaluddin Al-Qasimi rahimahullah. Beliau jalan kaki bersama teman-temannya kemudian beliau melewati warung kopi. Beliau lihat di warung itu banyak orang yg sedang bermain. Beliau diam sejenak, lalu beliau ditanya tentang diamnya itu, kemudian beliau berkata, Kalau seandainya mereka menjual waktu mereka kepadaku, aku pasti akan membelinya.
Wahai hamba-hamba Allah, marilah kita manfaatkan kesehatan kita! Kita manfaatkan untk puasa, shalat malam, berjihad, beribadah ke masjid, menuntut ilmu, dan lainnya. Marilah kita manfaatkan sebelum diuji dgn sakit. Ketika itu kita berharap untk bisa puasa tapi tak mampu. Berharap bisa shalat sambil berdiri, tapi tak bisa berdiri. Berharap bisa berangkat menuju masjid, tapi kedua kaki tak kuat untk menyangga badan. Maka kita akan menyesali hari-hari ketika kita masih mampu melakukan semua ibadah, tapi tak memanfaatkannya!
Hendaknya kita isi waktu-waktu luang kita dgn amalan-amalan shalih yg berguna bagi kita sendiri. Sebab di saat sibuk kita akan berharap bisa mempunyai waktu luang untk membaca buku dan menghadiri pengajian, tapi tak mendapatkan waktu itu. Kita pun akan menyesali waktu-waktu yg telah tersia-siakan.
Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah, jika kita sudah memanfaatkan waktu sehat dan waktu luang untk taat kepada Allah, lalu kita sakit / melakukan perjalanan jauh, maka akan dituliskan buat kita pahala seperti pahala amalan yg dilakukan ketika sehat dan luang. Sebagaimana telah dijelaskan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dlm sabdanya :
إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيما صحيحا
Apabila seorang hamba sakit / dlm perjalanan, maka dituliskan baginya pahala seperti apa yg ia lakukan ketika ia sehat dan tak melakukan perjalanan [HR. Bukhari].
Akan tetapi kebanyakan manusia melalaikan hal itu. Oleh karenanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
نعمتان مغبون فـيهما كثير من الناس : الصحة والفراغ
Ada dua nikmat dimana banyak orang yg rugi (atas kedua nikmat itu), yaitu nikmat sehat dan waktu luang [HR. Bukhari].
Kata Maghbuun (مغبون) dlm hadits di atas pd dasarnya terjadi pd jual beli. Dengan ni Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ingin menjelaskan bahwa orang rugi secara hakiki adlh orang sehat dan memiliki waktu luang lalu tak bisa memanfaatkan keduanya. Ibaratnya orang memiliki permata yg sangat mahal lalu ditukar dgn kotoran hewan yg tak berharga.
Ibnu Baththal rahimahullah berkata, Maksud hadits ni adlh seseorang tak akan memiliki waktu senggang sampai ia berkecukupan secara ekonomi serta berbadan sehat. Barangsiapa yg memperoleh hal tersebut (berkecukupan dan berbadan sehat) maka hendaklah ia bertekad agar tak rugi dgn cara mensyukuri nikmat yg Allah berikan kepadanya. Di antara syukur kepada-Nya adlh dgn mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Barangsiapa meremehkan hal ini, dialah orang yg rugi.
Ibnul-Jauzi rahimahullah berkata, Terkadang ada orang yg memiliki badan sehat tapi tak memiliki waktu luang disebabkan oleh pekerjaannya. Terkadang jg ada orang yg kaya tetapi dia sakit. Jika ada orang yg memiliki kedua hal tersebut, lalu dia malas untk berbuat taat, maka dialah orang yg rugi.
Untuk lebih jelasnya, dunia ni adlh ladang, di sana ada perniagaan yg keberuntungannya akan nampak di akhirat. Barangsiapa menggunakan waktu luang dan waktu sehatnya untk berbuat taat kepada Allah, maka dia adlh orang yg berbahagia. Barangsiapa yg menggunakannya untk berbuat maksiat maka dialah orang yg rugi. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan dan sehat akan diiringi oleh sakit.
Ath-Thiibi rahimahullah mengatakan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat permisalan bagi mukallaf (orang yg telah dibebani beban syari’at) dgn seorang pedagang yg punya modal. Pedagang ingin mencari untung dgn tetap menjaga keutuhan modalnya. Caranya adlh dgn memilih orang untk dimodali dan dia harus jujur dan benar supaya tak rugi. Kesehatan dan waktu luang adlh modal. Maka semestinya seorang hamba mengisinya dgn keimanan dan memerangi hawa nafsu dan setan, supaya meraih keuntungan di dunia dan akhirat. Janganlah dia mentaati hawa nafsu dan setan agar modal dan keuntungannya tak hilang sia-sia. Kehilangan modal dan keuntungan adlh kerugian yg besar.
Hadits ni diriwayatkan oleh Imam Bukhari dlm Shahihnya di awal bab Ar-Riqaaq, kemudian diiringi dgn hadits Anas dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :
اللهم لا عيش إلا عيش الأخرة
Ya Allah, tak ada kehidupan (hakiki) kecuali kehidupan akhirat [HR. Bukhari dan Muslim].
Ibnul-Munayyir rahimahullah berkata, Hubungan maksud hadits yg diriwayatkan Anas radliyallaahu ‘anhu dgn hadits Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma adlh banyak orang tertipu dgn kesehatan dan waktu luang, karena mereka lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ingin menunjukkan bahwa kehidupan yg mereka geluti tak ada artinya sedikitpun, sedangkan kehidupan yg mereka tinggalkan, itulah kehidupan yg sebenarnya. Barangsiapa yg tak mendapatkannya maka dialah orang yg rugi.
Oleh karena itu As-Salafush-Shalih lebih tamak terhadap waktu dibandingkan kita. Di antara kita ada yg tak tahu bagaimana memanfaatkan waktunya, bagaimana mengisi waktu luangnya? Kita terkadang mendengar dua orang yg berkata kepada temannya : Ayo kita habiskan waktu, / menghilangkan waktu. Sementara pd salaf sangat tamak pd menit, bahkan detik waktu. Kita lihat mereka saling menasihatkan hal itu.
Inilah dia Ibnul-Jauzi rahimahullah yg berkata kepada putranya, Wahai anakku, barangsiapa yg mengucapkan subhaanallaahi wabihamdihi maka ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga. Perhatikanlah, orang-orang yg menyia-nyiakan waktunya, alangkah banyaknya pohon kurma yg disia-siakan.
Diriwayatkan dari sebagian Salaf, jika dikatakan kepadanya : Berhentilah, saya ingin berbicara dgn Anda; maka dia menjawab : Tahanlah (jalannya) matahari.
Sebagian ulama salaf jika mereka didatangi tamu, maka dia akan memuliakan tamunya itu dan menjamunya dgn sebaik-baiknya. Jika para tamunya itu berlama-lama di sana, maka dia akan mengatakan : Tidakkah kalian segera pulang?.
Seluruh kesempatan adlh manfaat, bagaimanapun kecilnya kesempatan tersebut dlm pandanganmu, maka itu adlh keuntungan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِقٍ
Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun meskipun hanya bertemu dgn saudaramu dgn wajah tersenyum.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jg bersabda,
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمنْ لَمْ يجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
Jagalah dirimu dari api neraka meskipun dgn bersedekah sepenggal butir kurma, dan barangsiapa yg tak memiliki sesuatu untk disedekahkan maka bersedekahlah dgn ucapan yg baik. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Beliau jg bersabda,
إنَّ العبْدَ لَيَتَكلَّمُ بالكلمةِ مِنْ رِضْوانِ الله، لا يُلْقي لها بالاً، يرْفَعُ الله بِها دَرَجاتٍ
Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan suatu perkataan yg diridoi oleh Allah, ia tak memperdulikan perkataan tersebut, maka Allah mengangkatnya beberapa derajat karena kalimat tersebut. (HR. al-Bukhari).
Demikianlah kondisi seorang muslim, ia selalu memanfaatkan segala kesempatan untk memberi bagaimanapun kecilnya, ia berusaha semaksimal mungkin meskipun pemberian tersebut sedikit. Nabi Yusuf ‘alaihissalam menghadapi sulitnya tinggal di negeri asing, kerasnya kezoliman dlm penjara, akan tetapi ia tetap beramal kebajikan demi agama, dan ia memberi pengarahan kepada jalan kebenaran. Ia berkata,
يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (٣٩)
Hai kedua penghuni penjara, manakah yg baik, tuhan-tuhan yg bermacam-macam itu ataukah Allah yg Maha Esa lagi Maha Perkasa? (QS. Yusuf: 39).‎
4. Memanfaatkan masa muda
Masa muda adlh masa untk berkarya dan masa berjihad. Masa muda merupakan masa yg sangat berharga seumur hidup. Barangsiapa yg memanfaatkan untk dirinya, dia akan beruntung dan selamat. Dia jg akan berada di bawah naungan Allah ketika tak ada naungan kecuali naungan-Nya.
Barangsiapa menyia-nyiakan masa muda dlm hawa nafsu dan berfoya-foya, maka dia rugi. Jika dia mati mendadak, niscaya dia akan sangat menyesal. Dan jika dia hidup sampai tua, dia jg akan menyesal. Karena jika ia mati, amalnya terputus dan jika ia sudah tua, badannya bungkuk, kakinya lemah, pendengaran dan penglihatannya berkurang, dan dia tak mampu beramal shalih sebagaimana yg diinginkan.
Benarlah perkataan orang :
ألا ليت الشباب يعود يوما فأخبره بما فعل المشيب
Seandainya masa muda itu kembali sehari saja.......... Saya akan beritahukan penyesalan orang yg sudah tua..........
Wahai para pemuda, manfaatkanlah siangmu untk puasa, malammu untk shalat, langkahmu untk pergi ke masjid. Janganlah engkau jadikan waktu siangmu untk bermain.
Jangan jadikan bergadangmu untk sesuatu yg tak berharga.‎ Dan jangan jadikan langkahmu untk mendurhakai Allah.
Jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah engkau menunggu sore. Jika engkau berada di waktu sore, janganlah menunda sampai hari esok. Gunakan waktu sehatmu untk mencari bekal di waktu sakit, dan hidupmu untk mencari bekal di waktu sesudah mati.
Wahai Pemuda, Hidup Di Dunia Hanyalah Sementara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yg tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda, كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ
Hiduplah engkau di dunia ni seakan-akan sebagai orang asing / pengembara. (HR. Bukhari no. 6416) ‎ Lihatlah nasehat yg sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yg masih berusia belia. Ath Thibiy mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yg hidup di dunia ni dgn orang asing (al ghorib) yg tak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dgn pengembara. Orang asing dpt tinggal di negeri asing. Hal ni berbeda dgn seorang pengembara yg bermaksud menuju negeri yg jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yg membinasakan, dia akan melewati padang pasir yg menyengsarakan dan jg terdapat perampok. Orang seperti ni tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata. (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)
Negeri asing dan tempat pengembaraan yg dimaksudkan dlm hadits ni adlh dunia dan negeri tujuannya adlh akhirat. Jadi, hadits ni mengingatkan kita dgn kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ni jg mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untk negeri akhirat dgn amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin) Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‎ مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
Apa peduliku dgn dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yg berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya. (HR. Tirmidzi no. 2551) ‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu jg memberi petuah kepada kita, ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ
Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ni (di dunia) adlh hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adlh hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal. (HR. Bukhari secara mu’allaq -tanpa sanad-)‎
5. Memanfaatkan kekayaan
Kekayaan termasuk nikmat Allah. Orang yg diberi kekayaan wajib menyadari karunia Allah kepadanya dan wajib menyadari rahasia karunia ini. Nabi Sulaiman ‘alaihis-salam telah menjelaskan rahasia nikmat kekayaan dlm ucapan beliau sesudah melihat singgasana Bilqis berada di hadapan beliau. Beliau berkata :
هَـَذَا مِن فَضْلِ رَبّي لِيَبْلُوَنِيَ أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ
Ini termasuk karunia Rabbku untk mengujiku, apakah aku bersyukur ataukah kufur? [QS. An-Naml : 40].
Oleh karena itu seorang hamba wajib memanfaatkan masa kayanya, menginfakkan sebagian harta yg Allah berikan. Hendaklah dia betul-betul menghindari sifat bakhil dan sifat menahan karunia Allah. Allah telah berfirman :
وَلاَ يَحْسَبَنّ الّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لّهُمْ بَلْ هُوَ شَرّ لّهُمْ سَيُطَوّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَللّهِ مِيرَاثُ السّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Sekali-kali janganlah orang-orang yg bakhil dgn harta yg Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adlh buruk bagi mereka. Harta yg mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yg kamu kerjakan [QS. Aali Imran : 180].
Dan masih banyak lagi ayat dan hadits yg mengancam orang-orang yg bakhil. Kiranya satu ayat di atas sudah cukup untk mendorong kita untk memanfaatkan harta yg Allah amanahkan kepada kita.
Taktimah
Barangsiapa yg bersegera memanfaatkan kesempatan yg terbuka maka ia akan mendahului selainnya beberapa tingkatan. Orang-orang yg pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshoor lebih afdol dari pd orang-orang yg datang setelah mereka. Dan diantara mereka ada para peserta perang Badar yg memiliki keutamaan yg tak dimiliki oleh selain mereka. Dan parang sahabat yg masuk Islam sebelum Fathu Makkah, berhijrah dan berjihad dgn harta dan jiwa mereka, memiliki keutamaan yg lebih daripada para sahabat yg melakukan hal tersebut setelah Fathu Makkah. Allah berfirman,
وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (١٠)أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (١١)فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (١٢)ثُلَّةٌ مِنَ الأوَّلِينَ (١٣)وَقَلِيلٌ مِنَ الآخِرِينَ (١٤)
Dan orang-orang yg beriman paling dahulu, mereka Itulah yg didekatkan kepada Allah. Berada dlm jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yg terdahulu, Dan segolongan kecil dari orang-orang yg kemudian. (QS. Al-Waqi’ah: 10-14).
Kesempatan-kesempatan emas berlalu begitu cepat, karena waktunya sangat terbatas, cepat selesai, coba perhatikan perjalanan seorang yg telah tua, lihatlah begitu cepat perubahan kondisinya dari dahulunya sehat sekarang menjadi sakit, dari kaya menjadi miskin, dari rasa aman menjadi takut, dari waktu kosong kepada kesibukan, dari muda menjadi tua.
Semakin ditekankan untk memanfaatkan kesempatan di masa-masa fitnah dan musibah serta malapetaka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بَادِرُوا بالأَعْمَالِ فِتَناً كقِطَع اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناً وَيُمْسِي كَاَفِراً، وَيُمْسِي مُؤْمناً وَيُصْبِحُ كافِراَ يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
Bersegaralah beramal sholeh sebelum datangnya firnah-fitnah yg seperti potongan malam yg gelap gulita, seseorang di pagi hari dlm kondisi mukmin dan di sore hari menjadi kafir, seseorang di sore hari masih mukmin dan di pagi hari menjadi kafir, ia menjual agamanya dgn kepentingan dunia. (HR. Muslim).
Inilah di antara nasihat-nasihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam kepada ummatnya. Nasihat yg sangat berharga. Barangsiapa yg ingin selamat serta beruntung dlm kehidupan dunia dan akhirat, maka hendaklah ia mendengarkan dan berusaha melaksanakan nasihat beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sedangkan orang yg enggan untk mengikuti nasihat beliau, maka itulah orang-orang yg sesat dan merugi.
Berlindung kepada Allah dari Ketuaan/ Kepikunan ‎ Semakin lanjut usia seseorang, semakin berkurang kekuatannya dan melemah fisiknya hingga kembali kepada keadaan yg serupa dgn anak kecil dlm hal lemahnya tubuh, sedikit akalnya, dan tak adanya pengetahuan. Demikian pula munculnya pemandangan yg tak bagus serta tak mampu melakukan banyak ketaatan. Cukuplah seseorang berlindung dari kepikunan karena Allah telah menamakannya dgn umur yg paling rendah/hina dan menjadi tak tahu apa-apa yg sebelumnya ia tahu. Adalah Nabi berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ
Wahai Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, pengecut, dan kepikunan. (HR. Al-Bukhari no. 6367)
Orangtua Berjiwa Muda
Ketahuilah bahwa selagi manusia masih ada harapan hidup maka tak akan terputus harapannya untk mendapatkan dunia. Bahkan terkadang dirinya tak mau mencabut diri dari kelezatan dan syahwat yg maksiat. Setan pun selalu membisikkan untk mengakhirkan taubat hingga akhir umurnya. Sehingga bila ia telah yakin akan mati dan tak ada harapan lagi untk hidup, barulah ia sadar dari mabuknya akan syahwat dunia. Ia pun menyesali penyia-nyiaan umurnya dgn penyesalan yg hampir membunuh dirinya. Ia meminta dikembalikan ke dunia untk bertaubat dan beramal shalih. Tapi permintaannya tak digubris, sehingga berkumpullah padanya sakaratul maut dan penyesalan atas sesuatu yg telah lewat.
Allah telah memperingatkan hamba-Nya akan hal ini, supaya mereka bersiap-siap menghadapi kematian dgn bertaubat dan beramal shalih sebelum datangnya. Allah berfirman:
وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ. وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ. أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَى مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللهِ وَإِنْ كُنْتُ لَـمِنَ السَّاخِرِينَ
Dan kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang adzab kepadamu kemudian kamu tak dpt ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yg telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang adzab kepadamu dgn tiba-tiba, sedang kamu tak menyadarinya, supaya jangan ada orang yg mengatakan: ‘Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dlm (menunaikan kewajiban) terhadap Allah’. (Az-Zumar: 54-56) [Lihat Latha`iful Ma’arif, Al-Imam Ibnu Rajab hal. 449-450]
‘Ali bin Abi Thalib z berkata: Dunia pergi membelakangi, sedangkan akhirat datang menyambut, dan bagi masing-masingnya ada anak-anak (pecinta)nya. Maka jadilah kalian termasuk ahli akhirat dan jangan menjadi ahli dunia. Hari ni (kehidupan dunia) adlh tempat beramal bukan hisab, dan besok (kiamat) hanya ada hisab, tak ada amal. (Lihat Shahih Al-Bukhari, Kitab Ar-Riqaq Bab Fil

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

D.M.C.A Disclaimer of Lukas Blog - All contents published under GNU General Public License.
All images/photos/videos found in this site reserved by its respective owners. We does not upload or host any files.